KATA PENGANTAR
Segala
puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan
salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat
limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan
tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam.
Agama
sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan
umat manusia dapat dikaji melalui berbagai
sudut pandang. Islam sebagai agama yang
telah berkembang selama empat belas abad
lebih menyimpan banyak masalah yang perlu
diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan
pemikiran keagamaan maupun realitas sosial,
politik, ekonomi dan budaya.
Dalam
penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain
berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala
yang penulis hadapi teratasi.
Makalah
ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang karakteristik masyarakat madani, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan
berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang
dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Galuh. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari
sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya
meminta masukannya demi perbaikan pembuatan
makalah saya di masa yang akan datang dan
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Ciamis, 26 November 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ............…...........………………........………………………..….................……….…… 1
KATA PENGANTAR …...........………………………………………..………………….................………......… 2
DAFTAR ISI ………………............………………………………………………………………………..…............ 3
BAB I PENDAHULUAN ……………...........………………………………………………………...............….. 4
1.1
Latar Belakang Masalah ….........…...….........……………………………………..............….. 4
1.2
Rumusan Masalah ……………......……...........………...........……………………………….... 5
1.3
Tujuan Penulisan ............................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN
........….....................…………..........………………………………………………... . 6
2.1
QS Al Hujurat Ayat 13 Tentang Masyarakat Madani ................……………………..….... 6
2.2
Pengertian dan Karakteristik Masyarakat Madani ......................................………….. 6
2.3
Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani ..............................……………………......8
2.4
Peran Umat Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani ...................................10
BAB III SIMPULAN DAN SARAN ……….............………………………………….............………………..… 11
3.1
Simpulan ……………………………………..…………………………………........................……… 11
3.2
Saran-saran ………………………………………………………………......................………….… 11
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………..……………........................………………… 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Semua
orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera sebagaimana yang
dicita-citakan masyarakat Indonesia, yaitu adil dan makmur bagi seluruh lapisan
masyarakat.Untuk mencapainya berbagai
sistem kenegaraan muncul, seperti demokrasi.Cita-cita
suatu masyarakat tidak mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan kualitassumber daya
manusia.Hal ini terlaksana apabila semua
bidang pembangunan bergerak secara terpadu yang menjadikan manusia sebagai
subjek.Pengembangan masyarakat sebagai sebuah kajian keilmuan dapat menyentuh
keberadaan manusia yang berperadaban. Pengembanganmasyarakat merupakan sebuah
proses yang dapat merubah watak, sikap dan prilaku masyarakat ke arah
pembangunan yang dicita-citakan.Indikator dalam menentukan kemakmuran suatu bangsa sangat tergantung pada situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakatnya.Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia mencuatkan suatu kemakmuran yang didambakan yaitu terwujudnya masyarakat madani.Munculnya istilah masyarakat madani pada era reformasi ini, tidak terlepas dari kondisi politik negara yang berlangsung selama ini.Sejak Indonesia merdeka, masyarakat belum merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.Pemerintah atau penguasa belum banyak member kesempatan bagi semua lapisan masyarakat mengembangkan potensinya secara maksimal. Bangsa Indonesia belum terlambat mewujudkan masyarakat madani, asalkan semua potensi sumber daya manusia
mendapat kesempatan berkembang dan dikembangkan. Mewujudkan masyarakat madani banyak tantangan yang harus dilalui.Untuk itu perlu adanya strategi peningkatan peran dan fungsi masyarakat dalam mengangkat martabat manusia menuju masyarakat madani itu sendiri.
Perujukan terhadap masyarakat Madinah sebagai tipikal masyarakat ideal bukan pada peniruan struktur masyarakatnya, tapi pada sifat-sifat yang menghiasi masyarakat ideal ini. Seperti, pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar yang sejalan dengan petunjuk Ilahi, maupun persatuan yang kesatuan yang ditunjuk oleh ayat sebelumnya (lihat, QS. Ali Imran [3]: 105). Adapun cara pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar yang direstui Ilahi adalah dengan hikmah, nasehat, dan tutur kata yang baik sebagaimana yang tercermin dalam QS an-Nahl [16]: 125. Dalam rangka membangun “masyarakat madani modern”, meneladani Nabi bukan hanya penampilan fisik belaka, tapi sikap yang beliau peragakan saat berhubungan dengan sesama umat Islam ataupun dengan umat lain, seperti menjaga persatuan umat Islam, menghormati dan tidak meremehkan kelompok lain, berlaku adil kepada siapa saja, tidak melakukan pemaksaan agama, dan sifat-sifat luhur lainnya.
Kita juga harus meneladani sikap kaum Muslim awal yang tidak mendikotomikan antara kehidupan dunia dan akhirat. Mereka tidak meninggalkan dunia untuk akhiratnya dan tidak meninggalkan akhirat untuk dunianya. Mereka bersikap seimbang (tawassuth) dalam mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika sikap yang melekat pada masyarakat Madinah mampu diteladani umat Islam saat ini, maka kebangkitan Islam hanya menunggu waktu saja.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang
masalah tersebut maka penyusun dapat merumuskan suatu masalah, yaitu :
a. Apa
karakteristik masyarakat madani dan sejarah perkembangannya ?
b. Bagaimana
peran umat islam dalam mewujudkan masyarakat madani ?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan
makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Pendidikan
Agama Islam
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Q.S
AL-HUJURAT Ayat 13 Tentang Masyarakat Madani

Artinya “Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Isi kandungan surah Al Hujurat Ayat
13 antara lain :
1.
Setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah, kelebihannya hanya terletak pada kadar
ketakwaannya.
2.
Manusia diciptakan oleh Allah dari jenis laki-laki dan
perempuan.
3.
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
4.
Manusia dikumpulkan menjadi berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku agar saling mengenal.
5.
Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang
paling bertakwa.
2.2 Pengertian dan Karakteristik Masyarakat Madani
Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab dalam
membangun, menjalani dan memaknai kehidupannya serta menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan
teknologi.
Allah SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani
dengan firman-Nya dalam Q.S. Saba’ ayat 15:
Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman
mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada
mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan
bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu)
Karakteristik Masyarakat Madani
Ada beberapa karakteristik masyarakat madani,
diantaranya:
1.
Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif kedalam
masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.
2. Menyebarnya
kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat
dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.
3.
Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan
program-program pembangunan yang berbasis masyarakat.
4.
Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan
organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap
keputusan-keputusan pemerintah.
5.
Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim
totaliter.
6. Meluasnya
kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui
keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.
7. Adanya
pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai
ragam perspektif.
8. Bertuhan,
artinya bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat yang beragama, yang
mengakui adanya Tuhan dan menempatkan hukum Tuhan sebagai landasan yang
mengatur kehidupan sosial.
9. Damai,
artinya masing-masing elemen masyarakat, baik secara individu maupun secara
kelompok menghormati pihak lain secara adil.
10. Tolong
menolong tanpa mencampuri urusan internal individu lain yang dapat mengurangi
kebebasannya.
11. Toleran,
artinya tidak mencampuri urusan pribadi pihak lain yang telah diberikan oleh
Allah sebagai kebebasan manusia dan tidak merasa terganggu oleh aktivitas pihak
lain yang berbeda tersebut.
12.
Keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial.
13.
Berperadaban tinggi, artinya bahwa masyarakat tersebut memiliki kecintaan
terhadap ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk umat
manusia.
14. Berakhlak
mulia.
Dari beberapa ciri tersebut, kiranya
dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis
dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam
menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya, dimana
pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga
negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya. Namun demikian,
masyarakat madani bukanlah masyarakat yang sekali jadi, yang hampa udara, taken
for granted. Masyarakat madani adalah onsep yang cair yang dibentuk dari poses
sejarah yang panjang dan perjuangan yang terus menerus. Bila kita kaji,
masyarakat di negara-negara maju yang sudah dapat dikatakan sebagai masyarakat
madani, maka ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi untuk menjadi
masyarakat madani, yakni adanya democratic governance (pemerintahan demokratis)
yang dipilih dan berkuasa secara demokratis dan democratic civilian (masyarakat
sipil yang sanggup menjunjung nilai-nilai civil security; civil responsibility
dan civil resilience).
2.3 Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani
Ada dua masyarakat madani dalam sejarah
yang terdokumentasi sebagai masyarakat madani, yaitu:
1) Masyarakat Saba’, yaitu masyarakat
di masa Nabi Sulaiman.
2) Masyarakat Madinah setelah terjadi
traktat, perjanjjian Madinah antara Rasullullah SAW beserta umat Islam dengan
penduduk Madinah yang beragama Yahudi dan beragama Watsani dari kaum Aus dan
Khazraj. Perjanjian Madinah berisi kesepakatan ketiga unsur masyarakat untuk
saling menolong, menciptakan kedamaian dalam kehidupan sosial, menjadikan
Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan Rasullullah SAW sebagai pemimpin
dengan ketaatan penuh terhadap keputusan-keputusannya, dan memberikan kebebasan
bagi penduduknya untuk memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran agama
yang dianutnya.
Di Indonesia, masyarakat
madani sebagai terjemahan dari civil society diperkenalkan pertama kali oleh
Anwar Ibrahim (ketika itu Menteri Keuangan dan Timbalan Perdana Menteri
Malaysia) dalam ceramah Simposium Nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada
Festival Istiqlal, 26 September 1995 Jakarta. Istilah itu diterjemahkan
dari bahasa Arab mujtama’ madani, yang diperkenalkan oleh Prof. Naquib
Attas, seorang ahli sejarah dan peradaban Islam dari Malaysia, pendiri
ISTAC. Kata “madani” berarti civil atau civilized (beradab). Madani
berarti juga peradaban, sebagaimana kata Arab lainnya seperti hadlari, tsaqafi
atau tamaddun. Konsep madani bagi orang Arab memang mengacu pada hal-hal
yang ideal dalam kehidupan.Konsep masyarakat madani bersifat universal dan
memerlukan adaptasi untuk diwujudkan di Negara Indonesia mengingat dasar konsep
masyarakat madani
yang tidak memiliki latar belakang yang sama dengan keadaan sosial-budaya
masyarakat Indonesia.
Konsep Masyarakat Madani sangat baru dikalangan masyarakat
Indonesia sehingga memerlukan proses dalam pengembangannya. Hal ini
bukan merupakan hal yang mudah, oleh karena itu diperlukan langkah-langkah yang
efektif, sistematis, serta kontinyu sehingga dapat merubah paradigma dan
pemikiran masyarakat Indonesia.
2.4 Peran Umat Islam Dalam Mewujudkan Masyarakat
Madani
Dalam QS. 3 (Ali Imran) : 110 Allah berfirman. Ayat tersebut
menegaskan, bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik dari semua kelompok umat
manusia yang Allah ciptakan. Di antara aspek kebaikan umat Islam itu adalah
keunggulan kualitas SDM nya disbanding umat non Islam. Keunggulan kualitas umat
Islam yang dimaksud dalam Al Qur’an itu sifatnya normative, potensial, bukan
realitas melekat pasti secara permanen. Realitas dari norma tersebut bergantung
dari kemampuan umat Islam sendiri untuk memanfaatkan norma atau potensi yang
diberikan Allah.
Dalam sejarah umat Islam, realitas keunggulan normative atau
potensi umat Islam terjadi pada masa Abbasiyah. Pada masa itu umat Islam
menunjukkan kemajuan di berbagai bidang kehidupan : ilmu pengetahuan dan
teknologi, militer, ekonomi, politik, dan kemajuan bidang-bidang lainnya. Umat
Islam menjadi kelompok umat terdepan dan terunggul. Nama-nama ilmuwan besar
dunia lahir pada masa itu, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Imam al-Ghazali,
Al-Farabi, dan lain-lain. Kemunduran umat Islam terjadi pada pertengahan abad
ke-13 setelah Dinasti Bani Abbas dijatuhkan oleh Hulagu Khan, cucu Jengis Khan.
Saat ini kendali kemajuan dipegang masyarakat Barat. Umat
Islam belum mampu bangkit mengejar ketertinggalannya. Semangat untuk maju
berdasar nilai-nilai Islam telah mulai dibangkitkan melalui Islamisasi ilmu
pengetahuan. Islamisasi kelembagaan ekonomi melalui lembaga ekonomi dan
perbankan syari’ah, dan lain-lain. Kesadaran dan semangat untuk maju tersebut
apabila disertai dengan sikap konsisten terhadap moral atau akhlak islami, pasti
akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil yang dicapai
masyarakat Barat, yang sekedar mengandalkan pemikiran akal semata.
SDM umat Islam saat ini belum mampu menunjukkan kualitas
yang unggul. Karena itu dalam percaturan global, baik dalam bidang politik,
ekonomi, militer, ilmu pengetahuan dan teknologi, belum mampu menunjukkan
perannya yang signifikan. Dari segi jumlah, umat Islam cukup besar, begitu pula
dari segi potensi alam yang terdapat dalam wilayah kekuasaannya, tetapi karena
kualitas SDM nya masih rendah, eksplorasi kekayaan alamnya itu justru dilakukan
oleh bangsa-bangsa non Islam, sehingga keuntungan terbesar diperoleh oleh orang
non Islam.
Di Indonesia, jumlah umat Islam lebi dari 80% tetapi juga karena kualitas SDM umat Islam masih rendah,
juga belum mampu memberikan peran yang proporsional. Hukum positif yang berlaku
di Indonesia bukan hukum Islam. Sistem sosial politik dan ekonomi juga belum
dijiwai oleh nilai-nilai Islam, bahkan took-tokoh Islam belum mencerminkan
akhlak Islami. Terealisasi tidaknya syiar dan keunggulan Islam bergantung pada
keunggulan dan komitmen SDM umat Islam.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Untuk mewujudkan masyarakat madani dan agar terciptanya kesejahteraan umat
maka kita sebagai generasi penerus supaya dapat membuat suatu perubahan yang
signifikan. Selain itu, kita juga harus dapat menyesuaikan diri dengan apa yang
sedang terjadi di masyarakat sekarang ini. Agar di dalam kehidupan
bermasyarakat kita tidak ketinggalan berita. Adapun beberapa kesimpulan yang
dapat saya ambil dari pembahasan materi ialah bahwa di dalam mewujudkan
masyarakat madani dan kesejahteraan umat haruslah berpacu pada Al-Qur’an dan
As-Sunnah yang diamanatkan oleh Rasullullah kepada kita sebagai umat akhir
zaman. Sebelumnya kita harus mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan
masyarakat madani itu dan bagaimana cara menciptakan suasana pada masyarakat
madani tersebut, serta ciri-ciri apa saja yang terdapat pada masyarakat madani
sebelum kita yakni pada zaman Rasullullah
3.2 Saran
Penulis
bersedia menerima kritik dan saran yang positif dari pembaca. Penulis akan
menerima kritik dan saran tersebut sebagai bahan pertimbangan yang memperbaiki
makalah ini di kemudian hari. Semoga makalah berikutnya dapat penulis selesaikan
dengan hasil yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
QS AL
HUJURAT AYAT 13 TENTANG MASYARAKAT MADANI
Suito, Deny. 2006. Membangun
Masyarakat Madani.
Centre For Moderate Muslim Indonesia: Jakarta.
Suryana, A. Toto, dkk. 1996. Pendidikan
Agama Islam.
Tiga Mutiara: Bandung
(https://id.wikipedia.org)
(https://google.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar